Pasar collagen dikenal sebagai salah satu kategori paling menjanjikan di industri beauty nutrition dan functional drink. Permintaan tinggi, market luas, dan repeat order yang kuat membuat banyak brand tertarik masuk ke segmen ini.
Namun faktanya, tidak sedikit brand collagen yang gagal bertahan bahkan sebelum mencapai tahun pertama penjualan. Produk sudah launching, modal sudah keluar, tapi penjualan stagnan atau berhenti total.
Apa penyebabnya? Berikut beberapa kesalahan paling sering terjadi pada brand collagen yang akhirnya sulit berkembang.
1. Masuk Pasar Tanpa Riset yang Matang
Kesalahan paling umum adalah menganggap semua produk collagen pasti laku.
Banyak brand langsung meniru produk yang sedang viral tanpa memahami:
Target market yang jelas (usia, kebutuhan, daya beli)
Positioning produk (beauty, anti-aging, sport, atau wellness)
Diferensiasi dibanding kompetitor
Akibatnya, produk hadir tanpa keunikan, sulit bersaing, dan hanya mengandalkan harga murah.
👉 Collagen bukan hanya soal “ikut tren”, tapi soal strategi.
2. Formulasi Produk Kurang Relevan dengan Kebutuhan Pasar
Tidak semua collagen diciptakan sama.
Brand yang gagal seringkali:
Menggunakan dosis collagen terlalu rendah
Tidak mengombinasikan dengan bahan pendukung (vitamin C, hyaluronic acid, fiber, dll)
Mengabaikan rasa dan aftertaste
Padahal, konsumen collagen saat ini semakin kritis. Mereka membaca label, membandingkan kandungan, dan memilih produk yang terasa manfaatnya.
Formulasi yang lemah = repeat order rendah.
3. Mengabaikan Legalitas dan Regulasi Sejak Awal
Beberapa brand terlalu fokus ke kecepatan launching, tapi lupa bahwa:
Izin BPOM
Klaim produk
Kesesuaian kategori (suplemen, pangan olahan, minuman serbuk)
adalah faktor krusial.Kesalahan di tahap ini bisa menyebabkan:
Produk tidak bisa dipasarkan di marketplace besar
Konten iklan diturunkan
Rebranding atau reformulasi ulang (biaya dobel)
4. Kemasan Menarik, Tapi Tidak Fungsional
Visual memang penting, tapi kemasan collagen harus lebih dari sekadar cantik.
Brand sering gagal karena:
Ukuran tidak praktis untuk konsumsi harian
Material kemasan tidak menjaga kualitas produk
Informasi di label tidak jelas atau terlalu minim
Kemasan seharusnya mendukung pengalaman konsumsi, bukan hanya tampil estetik di foto.
5. Salah Memilih Partner Maklon
Ini kesalahan krusial yang sering disadari terlambat.
Partner maklon yang kurang tepat bisa menyebabkan:
Kualitas produk tidak konsisten
Sulit scaling produksi saat demand naik
Minim pendampingan (brand dibiarkan jalan sendiri)
Padahal, brand collagen yang sukses umumnya didukung oleh maklon yang paham pasar, regulasi, dan tren formulasi.
Maklon bukan sekadar pabrik, tapi strategic partner.
6. Tidak Punya Strategi Jangka Panjang
Banyak brand collagen hanya fokus di:
Launching awal
Influencer seeding
Promo besar di bulan pertama
Tanpa roadmap produk, inovasi varian, atau rencana scale-up. Hasilnya, penjualan naik sebentar lalu turun drastis. Padahal, pasar collagen sangat potensial jika dibangun dengan strategi berkelanjutan.
Kesimpulan
Gagalnya sebuah brand collagen jarang disebabkan oleh satu faktor saja.
Biasanya merupakan kombinasi dari minim riset, formulasi yang kurang tepat, salah partner, dan strategi yang tidak matang.
Masuk ke pasar collagen bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling siap.
Saatnya Bangun Brand Collagen yang Siap Tumbuh Bersama Nutrafood
Ingin menghindari kesalahan yang sama dan membangun brand collagen dengan fondasi yang kuat?
Nutrafood hadir sebagai partner maklon terpercaya untuk membantu Anda:
Menyusun konsep & positioning produk
Mengembangkan formulasi yang relevan dan kompetitif
Mengurus legalitas dengan aman
Produksi collagen dalam berbagai bentuk: sachet stick, jar, RTD, hingga box